Dongeng Kecil Hari Kartini

Di pagi itu, anak-anak TK tempat saya mengajar sedang istirahat. Mereka semua sedang asyik bermain beragam permainan. Ada yang bermain kejar-kejaran seperti Fani dan Zafran.

“Ayo Zafran kejar aku!” seru Fani.
“Awas kamu ya akan ku tangkap,” Zafran berlari mengejar Fani.
“Wah ketangkap kamuuuu,” Ucap Zafran yang akhirnya bisa menangkap Fani.

Fani berdiri lemas, lantas memilih istirahat karena capek terus berlari. Hal ini diikuti Zafran.

“Ih istirahat dulu ya, Aku capek. Kamu kuat banget sih larinya, aku kalah terus deh sama kamu, Zafran, kalau sudah besar kamu mau jadi apa ?” ungkap Fani sambil mengatur nafas.

“Aku ingin menjadi tentara, mempunyai tembakan untuk melawan musuh. Jadi jika ada yang berani menggangguku, biarku tembak. Dorr..dorr.. dorr !” tegas Zafran sambil bergaya menembak.

“Kalau cita-citaku ingin menjadi pilot yang mengendarai pesawat terbang. Aku ingin terbang mengelilingi dunia, melihat keindahan alam dari atas langit,” ujar Fani tersenyum sambil memandang langit.

Namun Zafran buru-buru mematahkan semangat Fani, “ih, Fani, kamu itu gak bisa jadi pilot. Pilot itu ga ada yang perempuan, adanya cuma laki-laki,” tegas Zafran sambil berteriak.

“Ah masa sih gak bisa, tapi kan aku mau jadi pilot ?” Fani terisak, matanya mulai sembab.

Melihat pertengkaran Fani dan Zafran, Saya  menghampiri mereka dan menanyakan keadaannya. Kemudian Fani menjelaskan tentang kejadian tadi.

Lalu saya berusaha menjelaskan pada kedua murid lucu itu bahwa sekarang anak-anak laki-laki dan perempuan bisa memiliki kesempatan untuk bekerja apa saja, asalkan pekerjaan itu baik dan orang tersebut punya kemampuan dan keahlian. Tak seperti zaman dahulu saat ibu RA Kartini hidup.

“Ada yang pernah dengar nama RA Kartini ? Mau dengar cerita tentang perjuangan ibu RA Kartini ?” ujar saya kepada 2 anak lucu itu.

“Aku pernah dengar ada hari kartini ya bu !” ungkap Zafran.
“Iya bu, aku juga pernah dengar ada lagunya juga kan ya bu ? Coba bu ceritakan !”

Baiklah akan saya ceritakan…

Pada tanggal 21 April 1879, RA Kartini lahir di Jepara. Ia tumbuh sebagai anak yang baik dan cerdas. Ia sangat suka mengoleksi buku. Karena ia terlahir dari keluarga bangsawan, ia bisa merasakan bersekolah, walau hanya sampai SD. Setelah lulus SD, orangtuanya tidak mengizinkannya melanjutkan sekolah karena ia akan dinikahkan.

Meski begitu semangat belajar dan rasa ingin tahunya tetap begitu besar. Ia terus membaca buku dan koran, bahkan ia juga menulis di surat kabar untuk berbagi ilmu, pengetahuan dan perjuangan. Pada zaman itu, tidak banyak perempuan yang bisa membaca dan menulis.

RA Kartini memberi semangat pada perempuan-perempuan di daerahnya untuk belajar dan ia juga mengajarkan mereka membaca dan menulis. Dari tulisan surat-surat yang pernah ia tulis, kemudian dikumpulkan menjadi buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.

Perjuangannya untuk membuat kaum perempuan memiliki kesempatan yang sama terutama dalam hal belajar untuk memperoleh pengetahuan. Karena itulah pada tanggal 21 mei 1964, RA Kartini diangkat sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional.

“Bu, pahlawan perempuan Indonesia, bukan hanya ibu RA Kartini saja kan ya bu?” tanya Fani penuh selidik.

“Ya benar, masih ada banyak lagi seperti Cut Nya Dien, Cut Meutia, Dewi Sartika,dll. Mereka adalah pahlawan di daerah, waktu dan dengan cara yang berbeda-beda,” jawab Saya.

Fani terkesima dengan jawaban yang saya berikan,  kini air matanya tak lagi sendu. Ia tersenyum mantap.

Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Ines Pangesti
Guru SDIT Iqro Pondok Gede

Be the first to comment on "Dongeng Kecil Hari Kartini"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*