Urgensi Sertifikasi Halal MUI: Dari Peluang Pasar Hingga Kesehatan

halal-mui-logo-A88C9A098B-seeklogo.com

Bekasimedia – Akhir-akhir ini beredar kabar yang kurang begitu baik tentang industri panganan di tanah air, dari saus dan es tak layak konsumsi, hingga jajanan anak yang patut diwaspadai.

Pada Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada tanggal 7 April kemarin, WHO mengambil tema Keamanan Pangan (food safety). Hal ini terkait dengan tingkat kematian anak di dunia yang meninggal akibat makanan yang tidak aman, lantaran berbakteri, mengandung parasit hingga makanan yang tercemar.

Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, kepala Balitbangkes RI di laman litbang.depkes.go.id, lingkup keamanan pangan sendiri meliputi: bersih, tidak mengandung unsur kimia, tidak mengandung unsur fisika, sesuai dengan agama juga sesuai dengan budaya setempat.

Di Indonesia, yang mayoritas beragama Islam, keamanan pangan erat kaitannya dengan kehalalan. Halal, berkaitan dengan kebersihan, kebaikan yang dikandung makanan hingga dampaknya pada kesehatan.

Halal atau tidaknya makanan yang dikonsumsi biasanya ditandai dengan sertifikasi halal dari MUI. Sertifikasi halal MUI sendiri, di Indonesia sebenarnya tidak hanya diurus oleh pengusaha muslim, pengusaha yang notebene nonmuslim banyak juga yang mengurus sertifikasi halal MUI.

Menurut Irfan Helmi, anggota komisi Fatwa MUI Pusat saat menyampaikan materi tentang Urgensi Sertifikasi Halal dalam Produk Pangan di Pondok Melati Bekasi pada Minggu (12/04), menyatakan bahwa sertifikasi halal menjamin proses kehalalan. Dari bahan baku hingga proses produksinya.

Sertifikasi Halal ini menjadikan konsumen lebih percaya akan hasil produksi pangan perusahaan apa pun yang mengurus dengan serius sertifikasi halalnya. (anr)

Be the first to comment on "Urgensi Sertifikasi Halal MUI: Dari Peluang Pasar Hingga Kesehatan"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*