Psikiater Anak dan Remaja: Autisme, Tak Kenal Maka Tak Sayang

 

auitis

Bekasimedia (29/03/15) – Anak Autis, dalam pandangan beberapa orang yang belum mengetahui tentang autis akan dianggap sebagai anak aneh, idiot, gila, cacat, pembuat masalah dan lain-lain.

Faktanya, di luar semua anggapan itu, anak autis sering kali memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh anak normal pada umumnya.

Penyandang autisme adalah anak dengan autisme. Anak autis akan berperilaku agresif jika tidak mendapat penanganan yang benar.

Dr. Suzy Yusna Dewi, dr. SpKJ (K), Psikiater anak dan remaja yang juga pembina Rumah Autis, dalam acara seminar pendidikan dan deklarasi Bekasi Peduli Autis memaparkan beberapa hal terkait autisme. Dalam makalah yang dipresentasikan oleh Dr. Suzy mengungkap bahwa Autisme jika diurai bisa berarti AUTISM (Always Unique Totally Interisting, Sometime mysterious).

Autisme adalah gangguan perkembangan menetap (neurodevelopmental) yang terjadi sebelum usia 3 tahun. ditandai oleh pola perilaku khas dan menetap.

Gejala autisme antara lain:

–          Gangguan secara kualitas dalam interaksi sosial seperti menghindari kontak, tidak tertarik dengan permainan bersama, sulit berbagi, dan bermain secaara bergantian

–          Gangguan kualitas dalam komunikasi (intonasi datar dan formal)

–          Pola perilaku yang terbatas dan stereotipik, minat dan aktivitas ditandai dengan sering mengulang kata atau frasa tertentu, atau dikenal sebagai echolalia.

–          Defisit fungsi kognitif (atensi, konsentrasi dan memori)

–          Gangguan sensoris ditandai dengan sering cemas dan agresif

–          Gangguang mood juga ditandai dengan sering cemas dan agresif

Mengenai penyebab autisme sendiri, belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, namun berdasarkan hipotesis beberapa pakar, faktor genetik, faktor lingkungan dan keadaan biologis otak (ketidakseimbangan neotransmitter) menjadi penyebab autisme.

Orangtua dan guru harus ingat bahwa autisme tidak disembuhkan dengan ragam obat, tetapi dengan diterapi. Obat hanya diberikan apabila benar-benar diperlukan.

Anak autisme dapat bersekolah, jika diterapi sedini mungkin, terapi sedini mungkin, akan membantu memperbaiki kemampuan kognitif dan kemandiriannya.

Anak autisme juga dapat bersekolah seperti anak lainnya. Di sekolah khusus atau sekolah inklusi. Dengan catatan harus didampingi, dengan pendekatan individu. Tim interdisipliner untuk autismme antara lain: perawat, psikiater anak, psikolog, pekerja sosial, terapis, ahli gizi dan farmasi.

Anak dengan autisme bukan anak yang harus dijauhi. Kenali autisme maka kita akan tahu cara menanganinya. Kuncinya, adalah sabar. (*/anr)

Be the first to comment on "Psikiater Anak dan Remaja: Autisme, Tak Kenal Maka Tak Sayang"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*