JPMI: Sektor Migas Makin Liberal, Tak Nyaman Untuk Masyarakat

endy kurniawan

Bekasimedia (28/03/15) –  Endy Kurniawan, Ketua Bidang Kemitraan dan Hubungan Antar Lembaga Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI) DKI Jaya, dalam siaran persnya menyampaikan masyarakat agar mulai terbiasa mengantisipasi fluktuasi harga BBM.

Endy mengatakan Sektor migas makin liberal. Semua diserahkan kepada mekanisme pasar. Sementara pelaku usaha dan masyarakat sebetulnya berharap stabilitas dan kepastian. “Ini (harga BBM ditentukan pasar) tak nyaman untuk masyarakat. Mereka ingin pemerintah punya peran lebih besar (untuk mengendalikan harga).”

Ketika ditanya apa langkah yang disarankan JPMI sebagai payung organisasi pengusaha Muslim di Indonesia kepada masyarakat dan pelaku usaha, ia menyatakan agar masyarakat bijak dalam konsumsi dan makin serius berinvestasi. “Masyarakat harus makin minimalis dalam konsumsi dan serius berinvestasi. Untuk pelaku usaha, acuan nilai tukar rupiah yang makin liar dan BBM yang labil harus jadi konsideran dalam mengelola keuangan. Dalam jangka menengah, baiknya kurangi komponen impor,” lanjut Endy.

Seperti diketahui, harga BBM jenis premium dan solar mengalami naik-turun mulai 17 November 2014 (kenaikan Rp 2.000 per liter), turun Rp 900 per liter pada awal Januari 2015, kemudian turun Rp 200 per liter pada 19 Januari, sebelum akhirnya naik per liter sebesar Rp 500 pada 28 Maret. Pemerintah Jokowi menyerahkan harga BBM mengikut sepenuhnya pada harga minyak dunia dan akan mengevaluasi harga setiap 2 minggu. (*/eas)

1 Comment on "JPMI: Sektor Migas Makin Liberal, Tak Nyaman Untuk Masyarakat"

  1. Pemerintah harusnya jangan lepas tangan bbm diserahkan ke harga pasar tapi harus bisa kendalikan harga bbm yg murah..setuju dg jpmi..

Leave a comment

Your email address will not be published.


*