Melindungi Anak dari Bullying Oleh Guru

Kang-Iman

“Coba kamu Lani, maju ke depan, kerjakan soal matematika di depan,” kata bu Guru. Dan Lani pun kedepan mengerjakan soal tersebut. Setelah dikerjakan, ”salah itu, gimana sih kamu, coba ulangi lagi,”hardik sang guru.

Dengan bersemangat Lani pun mengerjakan kembali, tetapi ternyata setelah diperiksa, ”Lani kamu ini gimana, salah ini. Katanya RANKING 1, begini aja nggak bisa !” kata sang guru kesal.

Akhirnya Lani kembali ke tempat duduknya, dengan langkah lesu dan muka menunduk. “Ayo siapa yang bisa mengerjakan soal ini ?” tanya sang guru kepada yang lain, ”Saya bu,” kata seorang murid. “Ya kamu Aril, coba ke depan,” kata sang Guru.

Aril maju ke depan kelas dan mengerjakan soalnya. “Nah ini baru benar,” kata sang Guru sambi melirik matanya ke arah Lani. ementara Lani terlihat menunduk. Gurunya lalu berkata, “Lani perhatikan sini, kamu jangan TIDUR.”

Bisa dibayangkan perasaan Lani dituduh tidur oleh sang Guru. Setelah pelajaran usai, Lani bergegas menghampiri Aril temannya, untuk menanyakan soal yang tadi dikerjakan nya di papan tulis, ternyata cara mengerjakannya sama dengan yang dikerjakan oleh Lani, tapi kenapa Lani disalahkan…eng ing eng….??

Di rumahnya Lani mengadukan hal ini kepada orang tuanya. “Kok Lani disalahin ya Bunda, padahal yang Lani kerjakan sama dengan Aril, kerjaan Aril dibenarkan sama guru, tapi Lani….” kata Lani bingung.

Sang bunda tidak bisa berkata apa-apa. “Lani dibilang TIDUR bunda sama bu Guru, padahal Lani lagi mikir, salah Lani apa ?” kata Lani meyakinkan sang Bunda.

Keesokan harinya, Lani bertemu dengan sang Guru. “Bu, yang saya kerjakan kemarin sama dengan yang Aril kerjakan ?”

“Coba saya lihat. Oh iya sama, maaf yah, ibu salah,” kata sang Guru dengan sikap biasa saja.

Nama Lani tentu saja hanya nama samaran. Namun kejadian ini benar-benar terjadi. Bisa dibayangkan Lani menjadi DOWN mentalnya dipermalukan di depan kelas, dengan kata-kata “RANKING 1″ dan “TIDUR”. Sang guru menyalahkan dan menuduh. Mungkin guru menganggap hanya sedang menegur muridnya. Namun guru sebenarnya sedang membully murid.

Serangan verbal berupa tuduhan semacam itu bisa menyebabkan trauma pada anak. Apalagi dilakukan oleh pihak yang punya kekuasaan lebih terhadap korbannya, salah satunya guru terhadap muridnya. Pengaruhnya bisa membuat anak merasa minder ahkan hingga dewasa. Hal ini bisa mengganggu prestasinya di sekolah ataupun kehidupannya hingga dewasa nanti.

Sang guru perlu diberi masukan untuk mengubah sikapnya pada anak. Namun sebelum itu kita sebagai orang tua perlu juga memperhatikan sikap kita pada anak, apakah di rumah justru kita juga melakukan tindakan bullying?

Anak perlu dilindungi dari tindakan bullying oleh orang dewasa. Mentalnya masih perlu bantuan untuk dibentuk. Namun bukan berarti orang tua membereskan semua masalah anak. Anak perlu juga mendapat kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri. Kelak ketika ia dewasa nanti, ia akan menjadi orang yang tangguh untuk menjalani kehidupannya.

Kang Iman – Praktisi Terapi/Konsultan Keluarga dari Bandung

“Save 1 Family Save 1 Generation”

Be the first to comment on "Melindungi Anak dari Bullying Oleh Guru"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*