Ekskul Angklung; Kenalkan Musik Tradisional pada Anak

Bekasimedia (06/03/15) – Bekasi termasuk ke dalam wilayah Provinsi Jawa Barat. Di bidang kesenian,  angklung adalah seni musik tradisional Jawa Barat yang sudah tidak asing lagi serta sudah banyak dijadikan ekstrakulikuler sekolah. Salah satunya di SDIT RAMU, Jatimakmur Pondok Gede.

Angklung

Angklung, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah alat musik tradisional yang dibuat dari tabung bambu. Sementara menurut Wikipedia, Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Mengenalkan alat musik tradisional angklung kepada anak-anak berusia kurang dari sembilan tahun mempunyai suka duka tersendiri. Pendekatan yang digunakan juga harus kreatif agar anak tidak cepat merasa jenuh.

“Mereka mungkin masih kecil, ya. Tapi bukan berarti kita menggampangkan. Sebisa mungkin kita harus menyelami dulu dunia mereka. Perasaan mereka. Senangnya, sedihnya, kita harus tahu dulu anak-anak keadaannya lagi seperti apa. Dan pastinya. Kita harus buat anak care dulu, sayang dulu pada kita. Caranya ya itu tadi. Kita ikuti alurnya anak tanpa keluar batas aturan ekskul itu sendiri,” tutur Ira, guru ekskul angklung kelas bawah (1,2,3) SDIT Ramu.

Ia mengaku kalau jenuh itu pasti dirasakan. Namun sebisa mungkin ia tetap ceria agar anak-anak juga semangat.

Awal mula pertemuan, biasanya guru menjelaskan dulu tentang angklung itu jenis alat musik seperti apa.

“Angklung jenisnya banyak ya. Tapi untuk anak-anak kelas bawah ini, diajarkan tangga nada yang masih standard. Tangga nada murni dari yang terendah sampai yang tertinggi. Makanya pemilihan lagunya juga yang mudah-mudah. Ada lagu nasional, lagu daerah dan lagu anak-anak,” lanjut Ira.

Untuk memotivasi anak, wali kelas empat sekaligus guru bahasa Indonesia ini menerapkan pemberian hadiah jika permainan angklung anak-anak bagus.

“Anak-anak cukup antusias dan cepat tanggap juga. Kadang kita kasih waktu istirahat. Maksimal 10 menit. Karena mereka kan, full juga di sekolah. Setelah belajar full di kelas, mereka harus ekskul juga. khawatir capek. Jadi kita beri reward, misalnya snack-snack kecil, kalau mereka mainnya bagus. Supaya mereka lebih antusias,” tutup Ira. (anr)

Be the first to comment on "Ekskul Angklung; Kenalkan Musik Tradisional pada Anak"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*