Astriana Baiti Sinaga: Amankan Generasi Muda dari Bahaya LGBT

Bekasimedia (02/03/15) – Pelangi memang memiliki banyak pilihan warna yang indah. Akan tetapi, jika kemudian warna pelangi (rainbow) ini menjadi simbol dari LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), maka warna-warni mencolok ini berarti perlu diwaspadai. Apalagi anak-anak cenderung suka sesuatu yang berwarna-warni. satu Mei dirayakan sebagai harinya LGBT.

takshow

LGBT sendiri mula-mula lahir akibat revolusi seksual di beberapa negara Eropa. Revolusi seksual sendiri terjadi akibat revolusi industri di dunia barat. Hingga akhirnya melahirkan sebuah ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme-kapitalisme)

Lebih jauh, ideologi ini memiliki empat pilar kebebasan yaitu kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat dan kebebasan berperilaku.

Astriana Baiti Sinaga, doktor yang juga pemerhati anak dan keluarga, dalam talkshow-nya yang bertema “Save Our Generation” dari Bahaya LGBT yang diadakan di aula masjid Al-Abraar, Jaticempaka, Pondok Gede pada Minggu (01/03), menyampaikan detail sejarah lahirnya LGBT hingga organisasi-organisasi dunia yang terindikasi memihak program-program kaum LGBT ini.

Selain itu, ia juga menyampaikan kondisi dan fakta-fakta memilukan terkait bahaya LGBT di masyarakat Indonesia juga dunia. Serta begitu massive-nya gerakan mereka di berbagai pelosok negeri bahkan sudah mulai masuk ke dunia hiburan. Bergerak cepat dan serapi mungkin agar bisa diterima di masyarakat.

“Pengarusutamaan HAM adalah alasan yang mereka gunakan sebagai alibi. Terutama dengan mengangkat isu diskriminasi dan kekerasan terutama terhadap perempuan,” papar Astriana, dosen pasca sarjana Universitas Islam Assyafi’iyah ini kepada audiens.

Astriana juga mengaitkan antara gaya hidup anak muda yang dirusak hedonisme.  Hingga menimbulkan kecenderungan di dalam diri mereka untuk berbuat di luar batas kewajaran.

“Suatu kali saya pernah mendatangi penjara anak. Lalu bertemu dengan anak berusia sepuluh tahun. Saya tanya apa yang dia lakukan sehingga bisa ada di sini. Ternyata dia menjadi makelar untuk kawannya sendiri. Menjual kawannya demi uang agar bisa membeli handphone dengan fitur yang lengkap,” ujar Astriana.

Itu hanya satu dari sekian fakta di lapangan yang mengerikan. Dan fenomena itu memang benar-benar terjadi di Indonesia.

Menghormati hak-hak asasi manusia memang tugas bersama. Akan tetapi semua orang juga  punya kewajiban untuk mencegah merasuknya pemahaman-pemahaman asing yang sekiranya bakal membingungkan pola pikir generasi penerus bangsa.

“Syarat hak asasi itu tidak memaksakan masuknya suatu budaya, dan tidak juga semena-mena,” ungkap  Astriana kepada Bekasimedia di akhir acara. (anr)

Be the first to comment on "Astriana Baiti Sinaga: Amankan Generasi Muda dari Bahaya LGBT"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*