Imlek, Tak Sekedar Pesta Tahun Baru

Lampion

Tahun baru Imlek merupakan tahun baru yang penting bagi orang Tionghoa, seperti masyarakat Muslim yang merayakan  Muharram, masyarakat Barat yang merayakan tahun baru di awal Januari. Begitupun warga Tionghoa, biasanya mereka  berkumpul bersama anggota keluarga atau kawan – kawan untuk merayakan bersama.

Kata Imlek (阴历 : Im = Bulan, Lek = penanggalan) berasal dari dialek Hokkian atau Bahasa Mandarinnya Yin Li yang berarti kalender bulan. Di Indonesia, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Kini masyarakat keturunan maupun Tionghoa di Indonesia dapat merayakan di khalayak ramai. Hal ini terjadi karena pada era Presiden Abdurrahman Wahid,  pelarangan tersebut dicabut.

Perayaan Imlek bukan hanya pada tanggal 19 Februari saja, tetapi akan berakhir – bila dihitung berdasarkan penanggalan Imlek jatuh – pada 5 Maret mendatang. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Thian (Tuhan), dan perayaan Cap Go Meh  pada maret mendatang.

Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga. Sehingga bisa dikatakan perayaan Imlek pada masyarakat Tionghoa berbeda dengan masyarakat lainnya. Mereka akan menutup perayaan tahun baru pada Cap Go Meh setiap tanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek.

Yang pasti tahun baru Imlek merupakan ajang bertemu anggota keluarga atau lebih dikenal oleh masyarakat muslim sebagai silaturrahim. Seperti yang dikatakan Yovita Iskandar, Harapan II Cici Jakarta 2013 kepada bekasimedia bahwa menurutnya, “Imlek adalah suatu momen di mana seluruh keluarga besar dapat berkumpul kembali untuk menyambut dan merayakan tahun baru bersama-sama.”(i)

Image: Google

Be the first to comment on "Imlek, Tak Sekedar Pesta Tahun Baru"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*