Kecelakaan Pesawat Bisa Mengakibatkan Trauma Mendalam

image

Seseorang mengalami trauma yang mendalam akan menurunkan pola yang sama pada tujuh generasi berikutnya. Trauma tersebut bisa disebabkan berbagai hal, salah satunya kecelakaan pesawat, seperti halnya kecelakaan Air Asia QZ 8501 baru-baru ini.

Ahli Neurobiologis dan Terapis Okupasi Dunia Kim Barthel, menilai bahwa seseorang yang trauma dengan kecelakaan pesawat, atau pernah mengalaminya perlu bantuan seorang okupasi terapi untuk memulihkan jiwanya. Sebab sebanyak 70 persen kehadiran okupasi terapi diklaim mampu mengatasi trauma tersebut.

“Kecelakaan pesawat menyebabkan trauma, kehadiran OT sangat penting disaat terjadi trauma tersebut, 70 persen kehadiran OT kurangi potensi kejadian post trauma,” tegasnya dalam seminar di Vokasi Universitas Indonesia (UI) hari ke II “The Behavioral Detective: Evidence and Art.”

Selain itu, Kim menjelaskan bahwa orang tersebut harus memiliki seseorang disampingnya yang menemani dan mendengarkan. Maka jika trauma berhasil diatasi, seseorang tersebut tak akan ‘menularkan’ trauma pada generasi selanjutnya.

“Ada seseorang yang mendampingi, memegang tangannya mendengarkan agar tak terjadi trauma berkepanjangan,” jelasnya.

Menurut Kim, kecelakaan pesawat menyebabkan trauma sosial. Sebab manusia pada umumnya memiliki rasa takut jika ia dekat dengan kematian.

“Memang kejadian pesawat ada peluang memunculkan trauma sosial, orang takut pada kematian, rasa takut alami yang dimiliki seseorang,” tegasnya.

Maka hal itu justru dimanfaatkan oleh media massa untuk terus mengulang kejadian tersebut kepada khalayak ramai. “Walaupun takut tetapi mengapa terus ditonton, karena orang pasti merasakan empati. Karena tubuh memiliki mirror neuron, tubuh bisa bercermin. Begitupun saat peristiwa 9 September WTC di Amerika Serikat yang kerap diulang media massa,” pungkasnya. (ma/eas)

Be the first to comment on "Kecelakaan Pesawat Bisa Mengakibatkan Trauma Mendalam"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*