Ini Langkah Fahira Idris Menyikapi Atribut Natal Bagi Karyawan Muslim

Fahira Idris

Fahira Idris

BEKASI – Fahira Idris, seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI 2014-2019 memberikan perhatian khusus kepada karyawan & karyawati muslim terkait pemakaian atribut Natal.

Pengusaha sekaligus aktifis sosial dan aktifis Gerakan Anti Miras (GeNaM) tersebut mengambil langkah konkret dengan membuat surat himbauan yang ditujukan langsung kepada beberapa asosiasi dan perusahaan agar tidak mewajibkan pemakaian atribut Natal topi Santa dan lain-lain.

Fahira mengutip pasal 29 ayat 2 UUD 45 yang secara garis besar agar memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk menjalankan agama yang di anutnya masing-masing

Bulan Desember menjadi momen yang dilematis untuk sebagian karyawan/karyawati muslim, terutama bagi mereka yang memiliki bos yang kurang paham makna toleransi.

Lihat saja pemandangan di mall, toko atau restaurant ternama di sebagian besar wilayah nusantara, masih sering kita jumpai karyawan/ti muslim yang memakai atribut Natal.

Jika dipahami secara mendalam, apalagi sampai ada pemaksaan dari manajemen mall atau toko yang dimaksudkan, maka ini jelas tindakan yang melukai toleransi beragama.

Artribut Natal merupakan identitas suatu kelompok agama yang seharusnya tidak diberlakukan untuk semua karyawan selain yang beragama Kristen. (mk)

Be the first to comment on "Ini Langkah Fahira Idris Menyikapi Atribut Natal Bagi Karyawan Muslim"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*